Kehamilan Kedua

Yup! Absen nyaris setahun ini, dan nongol-nongol udah hamil gede… 😀

Sering pengen post lagi disini. Tapi lebih sering sibuk didunia nyata sama anak & keluarga. Mungkin bukan sibuk, lebih tepatnya menikmati hectic-ny mka dunia nyata.

Bulan ini sudah masuk usia kandungan 9 bulan. Sudah cuti juga, dan sedang menikmati bedrest & quality time sama abang Meru. He he he… That’s how he called himself.

Kehamilan ke-2 ini tetep ada perbedaan sama kehamilan pertama dulu. Ini yang aku pelajari:

  1. Berat badanmu bisa naik lebih banyak atau lebih sedikit. (Kali ini lebih sedikit)
  2. Kamu bisa lebih mual atau lebih menerima makanan. (Dan badan lebih gampang terima makanan, gak semabok dulu)
  3. Ternyata kulit perutmu bisa saja melar lebih banyak dan dapat stretchmark baru yang justru tidak ada dikehamilan sebelumnya.
  4. Kalaupun selama 8 bulan kandunganmu sehat, belum tentu bulan ke-9 tidak akan ada masalah. (bisa jadi plasenta-mu ‘trauma’ trus lepas sedikit dari dinding rahim dan kamu harus bedrest kalo mau bayimu lahir sehat atau gangguan lainnya)
  5. Bisa jadi badanmu bereaksi lebih parah atau lebih menerima perubahan hormon mu. (Seperti ruam-ruam kecil yang dateng pergi tanpa diundang, atau lebih ngantukan, atau jadi lebih malas) 😛
  6. Mungkin karna badanmu pernah overhaul sebelumnya, bisa jadi kehamilan keduamu lebih berat. (Terutama buat gerak… #doh )
  7. Bayimu bisa jadi lebih kalem atau lebih aktif. Karakter anakmu masing-masing bisa terlihat dari dalam kandungan lho… 🙂
  8. Perhatianmu pada kandungan kedua belum tentu sebanyak perhatian pada kandungan pertama. Maklum, ada anak pertama-mu yang menuntut perhatianmu. 😉
  9. Makanan yang kamu makan belum tentu sedisiplin menu makanan pada kehamilan pertamamu.
  10. Waktu akan berlalu lebih cepat pada saat kehamilan kedua.
  11. Kamu mungkin mempelajari hal-hal baru tentang sibling, dan bagaimana menghindari sibling rivalry.
  12. Kamu akan flashback tentang banyak hal. Terutama tentang kehamilan dan keluarga.
  13. Kamu akan berusaha memperbaiki hal-hal yang tidak berjalan terlalu baik pada kehamilan pertama. (Seperti bagaimana caranya bisa memberi ASIX)
  14. Kamu bisa belajar untuk lebih banyak bersabar. (Kamu bisa bayangkan gimana rasanya kejar atau angkat anak balitamu dengan beban badan yang lebih berat)
  15. Kamu lebih santai karna kamu sudah belajar dari pengalaman.

Mungkin masih ada hal-hal yang berbeda dari kehamilan pertama dulu. Tapi sejauh ini hanya itu yang aku ingat.

Mungkin setelah ini lagi-lagi akan banyak absen post disini. Karna dunia nyata akan lebih hectic, dan rasanya rugi besar kalo gak menikmati pengalaman sekali seumur hidup itu. Anak kita gak mungkin jadi balita dua kali dalam hidupnya. Gak selamanya attached sm ibunya. Jadi harus dinikmati selagi bisa… 🙂

Advertisements

Pintu Bekas

Hari itu Minggu. Pagi.

Eyang ingin memberikan saja pintu seng bekas bongkaran kamar mandi kemarin pada nenek yang sering terlihat disekitar rumah kontrakan kami. Dia mencari barang-barang bekas untuk dijual ke pengepul. Aku iyakan karna memang pintu itu tidak akan terpakai lagi. Hanya akan jadi sampah dirumah kami.

Nenek itu datang. Eyang memanggilnya dan menawari pintu itu. Mungkin si Nenek bisa menjualnya sebagai logam kiloan. Si Nenek menunjukan barisan gigi-gigi nya yang tidak lagi utuh. Dia berterimakasih berulang-ulang. Tapi dia bingung bagaimana membawanya. Aku bilang saja panggil becak untuk membawa pintu bekas itu dan karung yang dibawanya. Akan aku beri ongkos becak dimuka.

Setelah mendapatkan becak, Nenek itu berpamitan, tersenyum lebar dan berterimakasih lagi. Dia bilang rumahnya akan punya pintu sekarang. Pintu bekas yang sudah keropos itu.

“One man trash is another man’s treasure.”

Senin. Pagi. Gerimis.

Rutinitas dirumah dimulai lagi seperti yang sudah-sudah. Aku menyiapkan sarapan dan bersiap-siap untuk kuli. Tapi pagi itu Meru yang bangun lebih pagi dan asyik menonton kartun tiba-tiba lari ke teras rumah. Tidak pernah sebelumnya dia berlari keteras rumah sesaat setelah bangun tidur, dan tidak pernah lagi setelahnya. Aku berlari kedepan menyusul Meru. Aku peringatkan teras yang licin karna air hujan. Tapi Meru berhenti didepan pintu. Ada si Nenek diluar pagar. Dibawah gerimis hujan dia mengaduk-aduk isi karungnya. Setelah aku tanya, dia mengeluarkan benda plastik kuning dari karungnya. Sebuah mainan excavator kecil berwarna kuning. Dia bilang dia menemukan mainan kecil yang sudah rusak, dan dia ingat anakku…Dia merasa tidak bisa memberikan apapun kecuali mainan itu.

Mainan itu basah dengan sedikit pasir dan lumpur. Meru tertawa girang. Dia berlari-lari kecil mencari ayahnya. Aku sampaikan terimakasih banyak pada si Nenek. Meru dan ayahnya mencuci mainan itu dikamar mandi.

Diam-diam mataku panas. Hatiku hangat.

Aku tidak mengharapkan apapun dari pintu seng bekas kemarin. Tapi ternyata pintu bekas itu memberikan tawa girang pada Meru-ku. Tawa itu tidak akan terbeli.

Maaf?

Mungkin saat kamu bisa membaca ini, kamu sudah lebih tinggi & besar. Mungkin juga kamu sudah dewasa. Atau mungkin kata-kata ibu ini hilang entah kemana. Tidak apa… Mumpung ibu ingat apa yang harus ibu sampaikan buat kamu.

Pada titik ini, ibu tau kalo ibu tidak cukup sabar untuk jaga kamu saat kamu mecoba semua hal baru yang kamu lihat. Kamu mungkin tidak tau bagaimana detak jantung ibu saat melihat kamu mendekati kompor yang menyala atau panci yang panas. Rasa didada ibu itu yang membuat ibu berteriak atau tiba-tiba menarik kuat-kuat tangan dan badanmu. Juga tidak cukup sabar saat menjelaskan padamu kalau potongan puzzle dari matras lantai itu tidak boleh masuk mulutmu & kamu kunyah.

Ada masanya ibu menyesal tidak cukup sering & banyak waktu untuk memelukmu. Ibu rasa tidak pernah cukup waktu ibu untuk memelukmu. Kamu masih ingat bagaimana ibu menciptakan rutinitas “I Love You…” sebelum ibu berangkat setiap pagi? Ibu tidak perlu menjelaskan panjang lebar artinya. Kamu pasti lebih bisa merasakannya. Ada masa kamu tidak mau membalas “I Love You” dari ibu, dan itu membuat ibu semakin kecil hati. Ibu merasa bahwa aktifitas ibu hari itu tidak mendapatkan doa darimu.

Ibu selalu ingin memberikan yang terbaik bagimu. Tapi kadang ibu menyesal karna ibu tidak lebih pintar & cekatan saat mengajarimu.

Ibu menyesal, kadang ibu sibuk menenangkan saudara atau sahabat ibu yang jauh disana. Padahal kamu memanggil-manggil ibu berulang kali untuk minta perhatian ibu.

Ibu merasa bersalah, kadang ibu membagi perhatian ibu yang seharusnya milikmu dengan tanaman ibu, atau buku ibu, atau masakan ibu. Kamu mungkin tau sekarang, itu yang membuat hati & pikiran ibu seimbang.

Ibu mencintaimu anakku, sangat. Dan maafkan ibu belum menjadi ibu yang lebih baik bagimu…

The Minimalist

Good morning to you!

Manusia ini mampir ke theminimalist. Kenapa tertarik baca? Karna merasa akhir-akhir ini terlalu konsumtif. Mungkin belum seberapa dibandingkan shopaholic. Tapi bagiku cukup banyak hal yang aku ‘timbun’ dengan membeli. Dorongan untuk selalu membeli itu yang membuat aku jengah. Bukan berarti aku mencoba munafik. Tentu saja berbelanja itu menyenangkan… Cuci mata, menimbang-nimbang pilihan, bayangan benda yg kita beli ketika sudah jadi milik kita, pujian bahwa barang itu bagus. Those are fun. But too much of it make me sick.

Mungkin baju-baju Meru bisa coret dari daftar ‘terlalu konsumtif’ itu… He’s growing up. As you all know, baju anak cepet gak muat. Dan alasan aku beli baju-baju Meru karna banyak baju yang tidak muat lagi.

Kembali ke theminimalist. Waktu aku jengah dengan dorongan konsumtif-ku, aku pengen hidup dengan barang sesedikit mungkin. Dan baca theminimalist mengingatkanku lg tentang itu. Sekarang pertanyaannya, apa mungkin dengan barangku yg dari sudut pandang lain ternyata gak seberapa ini diminimalisir lagi? Mau dikurangi sampe bagaimana lagi?

Satu yang pasti, manusia ini gak pernah pengen punya rumah besar & kendaraan pribadi yang wah. Gak pengen juga punya lemari banyak pintu yang isinya semua baju bermerk bagus & bermacam warna. Atau sepatu berjajar beberapa puluh biji. Nope! Manusia ini gak pernah pengen punya segalanya didunia. Mungkin ini efek kata-kata babenya Robinson Crusoe. Eits! Tapi jangan harap aku nolak kalo dihibahi uncle Sam duit sejuta dollar. 😛

Kadang aku cuma muak dengan dorongan konsumtifku.

Mungkin aku akan berhenti konsumtif berlebihan setelah beli beberapa baju kerja. Dan celana panjang. Dan jeans. Dan mengganti sepatu yang robek. Well… Seperti ini… Antara muak tapi memang sepatuku robek!

Not a pretty picture

Good bye my pregnancy comfort shoes! Thankyou!

If you are asking me what the point of this, I’ll say nothing. I’m just blabbering. Kalo mau maksa ambil point penting dari sini terserah saja mau pilih kata atau paragraf mana. Monggo… 🙂

Let’s Sit n Talk : Branded.

Hey you… Have a time? Come here and sit with me… Let us talk about small things. I have a great coffee with me… 😉

Begini, sekitar minggu lalu sepulang kuli aku lihat beberapa anak dari sekitar rumah berkumpul dengan sepedanya masing-masing. Tapi aku tidak berhenti lama & langsung masuk rumah. Didalam sudah ada eyang, Meru & mbak Jum. Sempat heran sih kenapa Meru tidak main diluar seperti biasa. Tapi aku tidak ambil pusing dan melanjutkan rutinitas.

Setelah lewat Maghrib aku & eyangnya Meru bercerita tentang apa saja yang terjadi hari itu, ya seperti biasanya. Ada satu cerita yang membuatku tersenyum kecut & yang membuatku tau kenapa Meru tidak main diluar sore itu. Eyang bercerita, salah satu anak yang bermain sepeda fasih membicarakan satu hal: Merk & Harga.

Sebut saja namanya Putri ya… Putri ini berusia sekitar 4 – 5 tahun. Yang pasti dia masih TK. Dia dengan fasih menanyakan harga sepeda temannya satu per satu. Dengan fasihnya juga membandingkan sepeda lain dengan sepedanya yang baru dan berharga mahal. Dia memastikan sepedanya lebih mahal dari sepeda-sepeda temannya yang lain. Dia pun ‘menceritakan’ kalau orang tua-nya akan membelikan lagi sepeda berwarna lain dengan merk yang sama.

Our children are not practicing what we preached, oh no they don’t mam…. But they DO pactice what we DID! 🙂

Kenapa ya kita mengagung-agungkan materi? Ya mungkin bukan kamu, tapi mungkin aku dan yang lainnya. 😀

Balik ke pertanyaan tadi ya… Buat apa mengagung-agungkan materi? Menurutku muungkiiin untuk menunjukkan kalau ‘Aku’ itu ‘bisa’ ya? Tapi kalau menunjukkan kalau ‘aku bisa’ itu tidak pakai materi, pasti bisa juga kan? ‘Aku bisa’-nya jangan pakai materi lah… Tapi ini sekedar usul saja. Karna (maaf lho ini pikiranku agak jelek) kalau saja tiba-tiba materi yang kita punya terbakar habis, atau tiba-tiba hilang semua, bagaimana? bisa saja kan? Kalau tidak ada lagi materi apa kita jadi ‘tidak bisa’? Tidak ‘mampu’? Jadi tidak berdaya begitu?

Apalagi kalau kita bicarakan merk. Usul lagi ini ya… Bagaimana kalau kita beli kualitas saja tanpa peduli merk-nya begitu? Iya… Aku juga setuju kalau beberapa merk memang menunjukkan kualitas. Tapi itu berarti kan kita lebih peduli merk bagus karena kualitasnya juga bagus kan? Bukan pilih merk dulu baru menimbang kualitas.

Bagaimana kalau mulai sekarang kita sama-sama belajar untuk tidak membanggakan materi? Karena materi itu… Sekali klik! Kun Fayakun! Buff! It will be gone within a blink of an eye… 🙂

So… How’s the coffee? Is it any good?

for Sleep Deprived Parents!

You are not alone people!

Sometimes I wish I am those selfish and pathetic parents who choose to give their children sleeping pills on those nights when he just refused to sleep for whatever reason even though his eyelids were so heavy & tired!

I need to read all over again on those articles!

First Year of Meru

Sudah setaun… 😥

365 hari ternyata lewatnya sekejapan mata. We’ve been going to some places, experiencing a lot of first things, nangis karna ngASI & ketawa bareng… Belajar banyak hal bareng-bareng. Dari belajar mandiin & mandi, ibunya belajar gantiin baju & Meru yang masih gak mau ganti baju, belajar nyikatin gigi & ngajarin nyikat giginya sendiri yang masih ditahap pake jari telunjuknya, belajar bagaimana nunjukin rasa sayang pake ciuman & belaian, belajar untuk ngobrol & dengerin, dan banyak hal baru lagi yang gak akan cukup dituliskan.

My beautiful son…

Every inch of him is magical to me. If only words can describe how I feel about him.

 

Mengingat kalo ternyata Meru-ku sudah setaun bikin ibunya mbrebes mili… 5, atau 10 taun lagi, apa anak lanang-ku ini masih mau dipeluk & diciumin sm ibunya?

 

 

Sehat wal afiat yo le… always. 

 

With indescribable Love,

Kakek 2

Bertemu dua kakek siang ini…

Kakek pertama menawarkan kedelai rebusnya seharga 5000 rupiah untuk 3 ikat saat kendaraanku berhenti di SPBU. Tanpa alas kaki & salah satu jempol kaki-nya dibalut dengan kapas yg diikat entah dengan tali apa. Badannya renta.. Bajunya lusuh… Terlihat beberapa giginya sudah tanggal saat tertawa. Hampir saja aku tidak membeli kedelainya kalau saja Eyangnya Meru tidak memberiku isyarat… Terucap beberapa do’a & rasa syukur dari 3 ikat kedelai rebusnya yang berpindah tangan padaku.

Kakek kedua menawarkan setumpuk bukunya saat kami berhenti untuk makan siang. Aku lihat pemilik rumah makan memberikan salah satu mejanya untuk tempat kakek ini menaruh buku-bukunya. Hampir seluruh buku yg ditawarkannya berharga sama, 12000 rupiah. Aku putuskan mengambil dua yang aku pikir akan ada manfaatnya bagiku & salah satu sahabat yang sedang belajar memasak. Kakek ini lebih rapi, beralas kaki.

Tapi mereka berdua tidak sungkan tersenyum lebar. Tidak ragu menjajakan barang dagangnya untuk mendapatkan sedikit rejeki yang halal dari jerih payahnya… Diusia mereka yang sudah renta.

A lesson to be learned. 🙂